Malam itu disebuah rumah yang besar dan mewah tengah berlangsung sebuah Pengajian yang diikuti oleh para jama’ah kalangan elite menengah keatas, seperti biasa setelah selesai ceramah sang Ustadz memberikan kesempatan kepada para Jama’ah untuk bertanya, lalu salah seorang Dokter Spesialis spontan angkat tangan mengajukan sebuah masalah yang telah lama mengganjal dalam kehidupannya.

” Assalamu’alaikum, kenalkan nama saya dr Brata, alhamdulillah saya senang dan saya cukup memahami semua yang Ustadz uraikan dalam pengajian kita kali ini, ada satu hal yang sampai saat ini saya belum bisa melakukannya…..” Tanya dr Brata.

” Ya…., boleh tahu, tentang hal apa pak Dokter ? sela sang ustadz.
” Begini pak Ustadz, sudah sejak lama saya mengetahui bahwa sesorang yang memberikan hartanya kepada orang lain itu adalah perbuatan yang sangat baik, tetapi itu teori, prakteknya ketika saya akan melakukan hal itu, hati dan perasaan saya selalu menentangnya, saya selalu tidak mampu melakukannya. Menurut pendapat saya, ini kan hasil jerih payah saya sendiri, mengapa mesti diberikan kepada orang lain dengan sebuah keharusan. Saya pikir ini tidak mendidik orang untuk belajar kerja keras dan hal semacam itu tidak harus dipaksakan, kalau hati lagi ingin ya saya memberi, kalau tidak ingin ya tidak perlu harus mengada-ngada untuk memberi” kata dr.Brata

Suasana mendadak sunyi karena pertanyaan dr Brata yang diluar dugaan para Jama’ah, semua berdiam diri ingin mengetahui kelanjutan dan arah pertanyaan dr.Brata. setelah berhenti sesaat dr Brata melanjutkan pertanyaannya yang belum selesai.

“…. Tetapi Ustadz pikiran semacam itu tidak lama di benak saya, karena sesaat kemudian berubah lagi, karena terfikir oleh saya lagi bahwa semestinya setiap orang harus peduli kepada sesamanya, tetapi saat saya akan memberi dan membantu orang lain yang sedang memerlukan, kembali saya tidak mampu melakukannnya, dan pertentangan seperti itu di hati saya berlanjut sudah cukup lama bahkan hingga saat ini belum juga terpecahkan. Hati saya sering menolak kalau apa yang saya miliki harus saya berikan kepada orang lain, sementara hati kecil saya sering berkata, saya harus membantu orang lain… karena itulah mohon Ustadz dapat memberi nasehat kepada saya, agar saya bisa berbuat sesuatu tanpa adanya pertentangan di hati, terima kasih “.

” Begini pak dr Brata, Islam ini adalah Perilaku, bukan sekedar tahu, menjalankan Islam bukan sekedar mengetahui secara ilmu, tetapi malakukan aplikasi secara sadar karena kita tahu bukan asal mengikuti orang lain, meskipun pada tahap awal kita seringkali meniru orang lain yang bisa kita percaya, nah melakukan kebajikan dengan cara sekedar ikut-ikutan seperti itu akan banyak terjadi pertentangan bathin dalam diri kita, sama persis seperti yang bapak alami saat ini “.

” kalau boleh saya Tanya, Pak Brata masih percaya dengan Al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah Rosulullah ? Insya Allah saya percaya Ustadz, tetapi jujur saya belum banyak tahu tentang kandungan Al-Qur’an dan Sunnah Rosulullah karena memang saya belum banyak belajar tentang Islam “.
” Alhamdulillah kalau Pak Brata percaya dan iman kepada Allah, Rosul dan Kitab Al-Qur’an……Pak Brata, suatu ketika Rosulullah SAW pernah menyampaikan sesuatu kepada para Sahabatnya, yang sangat erat kaitannya dengan pertanyaan Bapak tadi, Rosulullah SAW bertanya kepada para Sahabatnya ” manakah yang lebih kalian inginkan, harta milik kalian sendiri atau harta milik ahli waris kalian ? “, ” tentu kami kami lebih menginginkan harta milik kami sendiri ya Rosul “, jawab mereka.
” Ketahuilah bahwa harta seseorang itu adalah yang ia berikan di Jalan Allah, sedangkan harta yang ia tahan (disimpan) adalah milik ahli warisnya ( HR.Bukhari).

Sahabat Rumah Yatim Indonesia yang berkahi Allah SWT, harta manakah yang kita inginkan ? harta yang bisa menemani kita di Alam Penantian ( Barzah ) hingga mengantar kita ke Puncak Kenikmatan yang tiada tara ( Sorga ) ataukah harta ahli waris kita? Yang ketika kita meninggal kelak seluruh harta dan asset simpanan kita akan menjadi rebutan bahkan pertengkaran para ahli waris kita !

( Maaf, ini bukan berarti kita dilarang memberikan warisan kepada anak istri kita, justru Nabi menganjurkan agar ‘Kita Tidak Wafat Dulu’ sebelum melihat anak istri kita hidup dalam kesejahteraan, jangan sampai meninggalkan mereka dalam keadaan Miskin sehingga mereka jadi peminta-minta )

Seberapa lama lagikah jatah hidup kita di dunia ini ? mungkin tinggal 10 atau 40 tahun lagi, bandingkan kita akan hidup kembali di Akhirat kelak sekitar 15 Milyar tahun tidak ada kematian lagi, bayangkan betapa indahnya kita akan hidup 15 Milyar tahun dengan segala macam kenikmatan yang jauh melebihi kenikmatan Duniawi.

Akankah kita biarkan harta-harta kita tersimpan di dunia ini tanpa mampu mendampingi dan mengantar kita kepada kehidupan dan kenikmatan yang sebenarnya ? ataukah harta-harta kita itu akan kita jadikan bahan bakar yang akan membakar kita sendiri selama-lamanya ?

“….Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, beritakanlah kepada mereka akan azab yang pedih. Pada hari dimana harta mereka dipanaskan dalam neraka jahanam lalu dibakarnya dahi, rusuk, dan punggung mereka dan dikatakan kepada mereka, inilah harta benda yang kamu simpan untuk dirimu sendiri. Rasakanlah sekarang! Rasakan balasan dari apa yang kamu simpan itu”. (At-Taubah: 33-35).

Ataukah kita akan mengukir sebuah Penyesalan yang amat dalam, ketika jatah hidup kita sudah habis dan Malaikat Maut telah dihadapan kita untuk menjemput sementara kita sudah tidak berdaya dan tidak mampu berbuat apa-apa lagi dengan segala harta dan kekayaan kita yang telah lama ditunggu oleh para ahli waris kita.

“Dan belanjakanlah sebahagian dari apa yang Kami berikan rezeki kepadamu sebelum kematian itu datang kepada seseorang diantara kamu, lalu dia berkata, ya Rabb-ku, kenapa tidak Engkau tangguhkan kematianku kepada ajal yang dekat supaya aku bisa bersedekah, sehingga jadilah aku orang-orang yang shalih? Dan Allah tidak akan menangguhkan kepada seseorang apabila telah datang ajalnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Munafiqun: 10-11)

( Ayat ini menggugah kesadaran kita bahwa, ketika kondisi kesehatan dan jatah hidup kita sudah akan habis, dan kita melihat anak istri kita sudah bisa hidup mandiri dan berkecukupan, maka kita disuruh mensegerakan membelanjakan Harta-harta kekayaan kita yang masih tersimpan di Jalan Allah, agar kelak kita tidak menyesal)

Mendengar penjelasan seperti diatas, dr Brata tidak mampu berkata-kata lagi, hanya terdiam, memnunduk sambil menahan buliran air mata agar tidak sampai jatuh ke pipinya. suasanapun menjadi sunyi namun tak lam kemudian kesunyian itu kemudian terpecahkan oleh suara dr.Brata yang berkata pelan hamper tak terdengan suaranya :

” Terima kasih Ustadz, saya baru mengerti sekarang, sungguh saya telah melakukan kesalahan yang besar. Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan saya juga keluarga saya, saya baru mengerti kalau harta yang kita berikan adalah harta kita yang sebenarnya dan ternyata harta yang kita simpan tidak memiliki arti apa-apa bahkan bisa jadi mencelakakan kita….”..

” MILIK KITA ADALAH APA YANG KITA BERIKAN….. HAVING IS GIVING ” bisik dr Brata dengan nada bertanya pada diri sendiri. “…benar pak Brata, Milik Kita adalah Apa Yang Kita Berikan….”, Sahut sang Ustadz mengakhiri penjelasannya.

Sumber : Sedekah <group facebook>